MANADO – Derasnya hujan yang turun tanpa henti selama hampir lima jam mengubah aliran sungai menjadi arus mematikan. Air bercampur lumpur, bebatuan, dan kayu menerjang permukiman warga di Kecamatan Siau Timur, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Banjir bandang itu datang cepat, menyisakan kepanikan, kerusakan, dan duka mendalam.
Di tengah situasi darurat tersebut, perhatian serius datang dari Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sulut tidak akan tinggal diam dan memastikan kehadiran negara bagi masyarakat terdampak, baik pada fase penanganan darurat maupun pemulihan pascabencana.
“Pemerintah Provinsi akan semaksimal mungkin membantu meringankan beban masyarakat di Siau. Koordinasi dengan pemerintah kabupaten, TNI, Polri, dan instansi terkait terus dilakukan agar penanganan berjalan cepat dan tepat sasaran. Kita semua berharap cuaca segera kembali normal,” kat Gubernur Yulius.
Sebagai bentuk respons cepat, Gubernur telah menginstruksikan jajaran terkait di Pemprov Sulut untuk segera menyalurkan bantuan yang dibutuhkan masyarakat. Bantuan tersebut meliputi pengerahan alat berat untuk pembersihan material banjir, serta pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, kasur, kebutuhan bayi, dan kebutuhan khusus bagi lansia.
Di balik langkah-langkah teknis tersebut, terselip empati mendalam dari orang nomor satu di Sulawesi Utara itu.
“Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Sulut menyampaikan duka yang mendalam atas peristiwa banjir bandang yang terjadi di Siau. Kami sangat prihatin dengan kejadian ini,” ujar Gubernur Yulius.
Saat ini, upaya penanganan darurat terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro bersama unsur TNI, Polri, dan masyarakat setempat. Evakuasi korban, pencarian warga yang masih hilang, serta penanganan medis bagi korban luka menjadi prioritas utama.
Bencana banjir bandang ini berdampak luas di sejumlah wilayah, di antaranya Kelurahan Paniki, Paseng, Bahu, Kampung Bumbiha, Peling, Laghaeng, Batusenggo, Beong, dan Salili. Data sementara mencatat korban meninggal dunia sebanyak 11 jiwa, empat orang dinyatakan hilang, serta 18 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah korban luka tersebut, dua orang mengalami luka berat dan direncanakan dirujuk ke rumah sakit di Kota Manado untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Guna mempercepat proses penanganan dan pemulihan, Pemerintah Kabupaten Sitaro telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari. Penetapan ini diharapkan memperkuat koordinasi lintas sektor dan mempercepat penyaluran bantuan bagi warga terdampak.
(Budi).











































