MINSEL, MSN – Dedikasi Chiko Rompas, S.Pd, seorang guru honorer di Desa Karimbow, Kecamatan Motoling Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, menjadi bukti bahwa cinta dan kepedulian mampu menghadirkan perubahan nyata dalam dunia pendidikan.
Sebelumnya, Chiko meniti karier sebagai tenaga pendidik di SD Negeri Karimbow. Namun, seiring kebijakan penataan tenaga non-ASN yang mulai berlaku per 1 Januari 2026, kini ia mengabdikan diri di Sekolah Swasta SD GMIM Karimbow.
Meski belum genap sebulan mengajar di sekolah tersebut, jebolan S1 PGSD Unima Tahun 2021 ini langsung melakukan berbagai inovasi pembelajaran. Dengan pendekatan yang efektif, kreatif, serta pemberian reward secara rutin, ia berhasil menumbuhkan kembali minat belajar siswa yang sempat menurun.
Tak hanya berdampak pada semangat belajar, metode yang diterapkan Chiko juga berpengaruh signifikan terhadap tingkat kehadiran siswa. Sosoknya yang dikenal disiplin namun penuh perhatian membuat murid merasa nyaman dan termotivasi untuk datang ke sekolah.
Keistimewaan Chiko terletak pada ketulusannya. Gajinya yang kecil, ia menyisihkan untuk memberikan reward kepada siswa sebanyak dua kali dalam sebulan. Bentuknya beragam, mulai dari snack, alat tulis-menulis, hingga perlengkapan sekolah seperti sepatu dan seragam.
“Ini sudah saya lakukan sejak di sekolah lama. Di sekolah yang baru ini, reward akan saya berikan dua kali dalam sebulan. Ini adalah investasi saya agar kelak lahir generasi penerus yang lebih baik,” ujar Chiko saat dihubungi usai membagikan buku gambar kepada murid, Selasa (10/02/2026).

Hasilnya pun mulai terlihat. Dalam waktu singkat, minat siswa untuk datang ke sekolah meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya.
“Walaupun belum satu bulan, kehadiran siswa di kelas saya yang sebelumnya minim kini meningkat drastis jadi 100 persen. Semoga ini menjadi stimulus agar anak-anak semakin semangat bersekolah dan giat belajar,” tuturnya.
Upaya kecil yang dilakukan Chiko membawa dampak besar. Para orang tua murid mengaku sangat bersyukur atas perubahan positif yang terjadi pada anak-anak mereka.
“Anak kami sekarang lebih semangat belajar dan lebih rajin ke sekolah. Ini tentu sangat baik untuk masa depan mereka,” ungkap para orang tua murid.
Bahkan, berdasarkan penuturan orang tua murid di sekolah sebelumnya, pada akhir 2025 lalu Chiko menghabiskan seluruh honor triwulan keempat yang ia terima untuk membelikan buku bagi siswanya.
“Hal seperti ini jarang ditemui. Kami tahu gaji guru honorer sangat terbatas. Karena itu, kami sangat berterima kasih kepada Pak Guru Chiko atas ketulusan hatinya,” ujar salah satu orang tua murid.

Kepada manadosulutnews.com Chiko membeberkan, ternyata dedikasinya ini berakar dari teladan sang ibu yang juga berprofesi sebagai tenaga pendidik.
“Saya belajar dari ibu. Ia bukan hanya ibu bagi kami di rumah, tetapi juga bagi murid-muridnya di sekolah. Ia mengajar dengan cinta, bukan sekadar menyelesaikan kurikulum,” katanya.
Tentunya, apa yang dilakukan Chiko Rompas bukan sekadar kisah pengabdian seorang guru honorer di pelosok negeri, melainkan potret ketulusan yang mampu menginspirasi dunia pendidikan Indonesia.
Dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup, Chiko membuktikan bahwa kepedulian, ketulusan, dan cinta dalam mendidik dapat menghadirkan perubahan nyata bagi masa depan generasi bangsa.
Ke depan, kisah ini diharapkan tak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga menjadi cermin bagi lahirnya kebijakan dan perhatian yang lebih besar terhadap nasib guru honorer hingga ke pelosok negeri.
(Stev)











































