MANADO– Pemerintahan Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay, tidak terburu-buru menunjukkan hasil instan. Mereka lebih fokus pada apa yang ada di bawah permukaan, membuat dasar yang kuat agar setiap program bisa berdiri kokoh dan bertahan lama.
Hal ini diungkapkan Sekertaris DPD Gerindra Sulut Harvani Boky, saat membberikan tanggapannya tentang perjalanan satu tahun kepemimpinan pasangan tersebut.
“Sejak Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus dan J. Victor Mailangkay, menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara secara De Facto tepat satu tahun lalu, kata “fondasi” menjadi kata kunci yang mengakar dalam setiap langkah pembangunan daerah.,” kata Harvani.
Lanjutnya, momen satu tahun kepemimpinan tiba, harapan akan Sulut yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan mulai tampak dalam bentuk nyata.
“Bukan sekadar janji manis, melainkan hasil kerja keras yang dibangun dari akar rumput,” tambahnya.
PARIWISATA YANG DIBANGUN DARI BAWAH KE ATAS
Bukit Kasih, sebuah ikon wisata Manado yang terlantar selama puluhan tahun, kini mulai menunjukkan wajah baru. Jalur-jalur yang dulunya penuh dengan semak belukar kini tertata rapi, fasilitas pendukung diperbaiki, dan suasana yang dulu sepi kini mulai ramai dikunjungi wisatawan. Bukan hanya itu, museum daerah juga mendapatkan sentuhan modernisasi, membuat cerita sejarah Sulut bisa dinikmati dengan cara yang lebih menarik.
“Revitalisasi bukan hanya tentang memperbaiki fisik, tapi juga menghidupkan kembali jiwa pariwisata daerah,” jelas Harvany.
Rencana peningkatan penerbangan internasional yang akan masuk ke Sulut juga menjadi angin segar yang diantisipasi mampu menggairahkan seluruh rantai industri pariwisata, dari penginapan, kuliner, hingga produk UMKM yang kini mulai bersiap untuk menyambut kunjungan wisatawan dari berbagai negara.
KETAHANAN PANGAN SEBAGAI JAGAAN STABILITAS EKONOMI
Di tengah ketidakpastian kondisi global yang sering mengganggu pasokan pangan, pemerintahan YSK-Victor memilih jalan yang jelas: membuat Sulut mandiri. Gerakan Pangan Murah yang telah tersebar di 190 titik di seluruh Sulut menjadi bukti bahwa ketersediaan pangan yang terjangkau adalah prioritas utama. Cadangan pangan telah disalurkan, panen raya sukses digelar, dan 2000 hektare lahan siap dibuka untuk pembudidayaan padi.
Program “Tanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam” bahkan telah menjangkau pelosok daerah, membuat filosofi kemandirian bukan lagi kata kosong. “Kita tidak ingin tergantung pada pasokan dari luar. Ketika pangan kita kendalikan sendiri, stabilitas ekonomi daerah juga akan semakin kuat,” ujar Harvany dengan keyakinan.
HAK RAKYAT DAN LINGKUNGAN DIPERHATIKAN SECARA SEIMBANG
Di bidang pertambangan, sebuah terobosan besar datang dengan diserahkannya Supersub RTRW dan SK 63 blok WPR yang menuju pada penetapan Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Bagi ribuan masyarakat pertambangan rakyat yang selama ini bekerja dengan penuh ketakutan, kebijakan ini seperti angin segar yang memberikan perlindungan hukum.
“Sekarang mereka bisa bekerja dengan tenang, karena hak-hak mereka diatur dengan jelas. Tak hanya itu, kelestarian lingkungan juga menjadi bagian yang tidak bisa dikompromikan dalam peraturan tersebut,” jelasnya. Ini menjadi bukti bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan kepentingan rakyat atau lingkungan hidup.
OLAHRAGA SEBAGAI JEMBATAN KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN
Bagi sebagian orang, olahraga mungkin hanya tentang pertandingan dan prestasi. Namun bagi Gubernur Yulius, sosok mantan atlet yang memiliki olahraga mendarah daging dalam dirinya, olahraga adalah alat untuk menyatukan masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup. Bukti paling nyata adalah kebangkitan Persma 1960, klub sepak bola yang telah mati suri selama bertahun-tahun.
“Saat Persma kembali bermain, kita melihat semangat masyarakat Sulut berkobar lagi. Anak-anak muda punya idola lokal, warga punya alasan untuk berkumpul dan bersatu,” kata Harvani, yang menilai julukan “Bapak Olahraga Sulut” sangat layak diberikan kepada Gubernur Yulius. Semua cabang olahraga juga mendapatkan perhatian yang sama, bukan hanya yang dianggap populer saja.
EKONOMI YANG BERGELOMBANG KEDEPAN
Angka tidak pernah berbohong. Berdasarkan data dari BPS Sulut, ekonomi daerah tumbuh secara kumulatif sebesar 5,66 persen dibanding tahun sebelumnya. Sektor industri pengolahan bahkan melesat hingga 9,97 persen, sementara ekspor luar negeri melonjak pesat mencapai 28,42 persen. Angka-angka ini bukan hanya angka statistik, melainkan bukti bahwa fondasi pembangunan yang dibangun telah mulai memberikan hasil.
“Kita tahu bahwa tidak semua program bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat dalam waktu satu tahun. Tapi dengan dasar yang kuat ini, kita yakin bahwa kebaikan akan menyebar ke setiap lapisan masyarakat seiring berjalannya waktu,” pungkas Harvany.
Perjalanan satu tahun mungkin masih terasa singkat, namun setiap langkah yang ditempuh pemerintahan YSK-Victor telah menunjukkan komitmen yang jelas: membangun Sulut bukan hanya untuk saat ini, tapi juga untuk masa depan generasi mendatang, dari dasar yang kokoh menuju kejayaan yang tahan lama.
(Budi)







































