MANADO- Pagi itu, Jumat (9/1/2026), layar-layar di ruang monitor Posko Bencana Sitaro menampilkan gambar yang tak sepenuhnya tenang. Jalan-jalan yang baru terbuka masih basah lumpur, alat berat bekerja di sela bebatuan besar, dan warga Siau beraktivitas di tengah sisa-sisa banjir bandang. Dari ruangan itulah, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus memulai langkah berikutnya—melepas kembali bantuan kemanusiaan bagi Pulau Siau.
Didampingi Asisten I Pemprov Sulut, Denny Mangala, Gubernur Yulius menyimak laporan demi laporan. Melalui sambungan zoom, suara petugas di lapangan terdengar tegas namun lelah. Mereka berbicara tentang logistik yang terus bergerak, jalan yang mulai terbuka, dan warga yang perlahan kembali menata hidup di antara puing dan lumpur.
Pemantauan bukan sekadar formalitas. Gubernur ingin memastikan setiap bantuan benar-benar sampai, setiap alat berat bekerja efektif, dan setiap kebutuhan mendesak warga terlayani. Dari distribusi logistik, layanan kesehatan, hingga percepatan pemulihan pascabencana—semuanya menjadi bagian dari perhatian hari itu.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara akan terus hadir, Kami mendampingi masyarakat Siau sampai kondisi benar-benar pulih,” ujar Gubernur Yulius.
Di luar ruang monitor, bantuan kembali diberangkatkan. Kardus-kardus logistik, perlengkapan kebutuhan dasar, dan dukungan kemanusiaan lainnya meninggalkan Posko Bantuan Pemprov Sulut di Jalan 17 Agustus, Manado. Posko itu tak pernah benar-benar sepi sejak bencana melanda—menjadi titik temu kepedulian dari berbagai arah.
Di Pulau Siau, kerja belum usai. Enam wilayah terdampak—Kelurahan Bahu, Kampung Beong, Kelurahan Paseng, Kampung Bumbiha, Kampung Peling, dan Kampung Laghaeng—masih terus ditangani. Sejak Rabu (7/1/2026), wheel loader dan excavator bekerja tanpa henti, membuka jalan yang sempat tertutup material longsor. Hingga sore hari, akses di Kampung Bumbiha, Peling, dan Laghaeng akhirnya terbuka, meski baru selebar sekitar 2,5 meter.
Untuk bebatuan besar yang tak mudah dipindahkan, BPJN Sulut menyiapkan tambahan kekuatan. Satu unit excavator dan jackhammer dari Disaster Relief Unit dijadwalkan tiba, mempercepat proses yang menentukan mobilitas warga dan distribusi bantuan.
Dukungan kemanusiaan datang bergelombang. Dari Kota Tomohon, Wali Kota Caroll Joram Senduk bersama Wakil Wali Kota Sendy Rumajar mengirimkan bantuan tahap pertama yang tiba di posko pada Kamis malam. Relawan, organisasi kemasyarakatan, instansi pemerintah, hingga pihak swasta turut bergandeng tangan—dari Relawan Topan 08, Kerukunan Keluarga Toraja, PMTI, hingga jajaran OPD dan Satpol PP Sulut yang siaga penuh di posko.
Bagi Ir Adolf Tamengkel, Kepala BPBD Sulut, koordinasi menjadi kunci. Bantuan diberangkatkan melalui berbagai jalur—Dermaga Likupang dengan kapal Basarnas, Dermaga Manado dengan kapal umum, hingga truk BNPB yang didukung armada TNI. Semua bergerak dalam satu irama agar bantuan tepat waktu dan tepat sasaran.
(Budi)











































