MANADO — Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pembangunan Pertanian dan Apel Siaga Penyuluh Pertanian se-Sulawesi Utara di Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulut, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan yang dihadiri Kepala Pusat Penyuluhan Kementerian Pertanian, jajaran Forkopimda, serta para penyuluh pertanian se-Sulawesi Utara tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran penyuluh dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan pertanian.
Dalam sambutannya, Yulius menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh yang selama ini mendampingi petani di lapangan.
Ia mengatakan, sektor pertanian memiliki peran penting dalam menopang perekonomian Sulawesi Utara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan II 2026 tumbuh 5,42 persen secara tahunan, dengan sektor pertanian menjadi salah satu kontributor utama.
“Di balik angka-angka tersebut, ada keringat para penyuluh pertanian dalam mendampingi petani,” ujar Yulius.
Menurutnya, kinerja sektor pertanian juga tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara yang pada Agustus 2026 tercatat 129,56. Angka tersebut menunjukkan kondisi daya beli petani yang relatif baik.

Meski demikian, Yulius mengingatkan bahwa tantangan sektor pertanian ke depan semakin kompleks. Penyuluh, kata dia, tidak lagi cukup hanya berperan sebagai pendamping teknis, tetapi juga harus menjadi penggerak inovasi.
Pemanfaatan teknologi seperti drone penyemprot, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pupuk organik dinilai perlu terus diperluas untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Penyuluh juga didorong mendampingi petani hingga tahap hilirisasi dan pemasaran hasil pertanian. Selain itu, penyuluh diminta memastikan ketersediaan data pertanian yang akurat di lapangan.
“Bapak dan Ibu adalah mata dan telinga kami di lapangan. Data yang akurat akan menjadi dasar kebijakan pemerintah,” tegas Yulius.
Tantangan lain yang menjadi perhatian pemerintah adalah dampak fenomena El Nino dan kemarau panjang yang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Utara.
Yulius meminta jajaran pertanian melakukan langkah antisipasi melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, optimalisasi pengelolaan air, percepatan tanam menggunakan varietas tahan kekeringan, pengaturan pola tanam, serta penguatan koordinasi antarinstansi.
Menurutnya, kondisi iklim tersebut berpotensi memengaruhi produksi pangan dan pada akhirnya berdampak terhadap perekonomian masyarakat.
Karena itu, pembangunan pertanian tidak dapat hanya dilihat dari sisi produksi. Pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, lapangan kerja, pengendalian inflasi, pengentasan kemiskinan, dan kesejahteraan masyarakat.
“Kita ingin membangun pertanian yang tidak hanya menghasilkan lebih banyak, tetapi juga menghasilkan petani yang lebih sejahtera,” kata Yulius.
Ia menegaskan, pemerintah daerah akan terus memperkuat berbagai aspek pendukung pertanian, mulai dari ketersediaan benih dan pupuk, irigasi, mekanisasi, akses pembiayaan hingga kepastian pasar.
Pemanfaatan teknologi berbasis data dan digitalisasi juga akan didorong untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas petani.
Yulius berharap Rakerda menghasilkan program yang konkret, terukur, dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Jika petani sejahtera, NTP naik, ekonomi desa hidup, maka Sulawesi Utara maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan seruan semangat antara Gubernur dan para penyuluh. Saat Gubernur menyerukan “Pembangunan Pertanian!”, peserta menjawab serentak, “Satu Komando, Petarung!”
Seruan tersebut menjadi simbol tekad bersama untuk memperkuat pembangunan pertanian sekaligus mewujudkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Sulawesi Utara.
(Budi).








































