MANADO– Jumlah kamar hotel di Sulawesi Utara, masih membutuhkan penambahan seiring dengan pesatnya perkembangan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Manado Lenda Pelealu menyatakan saat ini ada sekitar 6.000 kamar hotel di Manado dan dinilai masih mencukupi. Namun, dengan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang terus meningkat, menurutnya tambahan kamar masih dibutuhkan.
“Saat ini ada sekita 5.000—6.000 kamar dan masih mencukupi, tapi kalau ke depan dengan adanya potensi peningkatan wisatawan yang lebih besar saya rasa masih dibutuhkan tambahan beberapa hotel lagi,” jelasnya, Jum’at (4/10/2019).
Menurutnya, ketambahan hotel berarti jumlah kamar bertambah, ini hal yang positif tentunya menyangkut amenitas di Manado. Hal ini membuat Manado semakin siap untuk menyongsong acara-acara besar di kemudian hari,” ujarnya.
Rencana pelebaran runway Bandara Sam Ratulangi kata dia juga akan membuat jumlah kunjungan wisatawan meningkat. Rencana konstruksi pelebaran itu akan dilakukan mulai bulan depan dan ditargetkan rampung pada Agustus 2020.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, dengan potensi wisman dari China sebanyak 2 juta orang per tahun, Sulut masih memerlukan tambahan kamar hotel untuk memaksimalkan potensi itu.
“Pak Jokowi membocorkan kepada kami bahwa perbincangan dia dengan Presiden [China] Xi Jinping jumlah turis China masuk lewat Sulut itu akan sampai 2 juta orang per tahun, sekarang kan baru 150.000 orang per tahun. Berarti masih ada 1,85 juga orang lagi. Hitung sendiri berapa kamar yang masih kami perlukan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulut Jhony Lieke mengatakan bahwa jumlah kamar saat ini jumlah kamar hotel di Sulut mencapai sekitar 8.000. Menurutnya, Sulut masih memerlukan tambahan hotel, khususnya bintang 4 dan 5.
Sulut itu masih kurang di hotel bintang 4 dan bintang 5. Jumlah turis yang atang kan 150.000 (per tahun), akan estimasi penambahan 50.000—60.000 per tahun, berarti butuh tambahan sekitar 300 kamar, dua hotel lah di kelas itu,” jelasnya.
Dia menjelaskan, kebutuhan hotel bintang 4 dan 5 disesuaikan dengan karakteristik wisatawan China yang mendominasi kunjungan wisman ke Sulut. Preferensi mereka selama ini selalu memilih kamar hotel pada kelas tersebut.
“Beda dengan turis lokal ini memang lebih banyak di bintang 2 dan 3, kalau yang China lebih banyak di di bintang 4 dan 5. Rata-rata hotel di kelas itu penuh semua, cuma yang bintang 2—3 ini agak kosong sekarang, karena juga faktor harga tiket pesawat kunjungan wisatawan lokal berkurang,” jelasnya.
Dia mengharapkan para pelaku industri perhotelan di Indonesia dapat berinvestasi di Sulawesi Utara. Nicholas menambahkan, saat ini beberapa calon investor dari luar negeri juga sudah mulai melirik Sulut untuk berinvestasi pada industri perhotelan.
“Sudah ada dari dari Hong Kong, dari Filipina, China dan tentunya dari dalam negeri juga untuk melihat-lihat pasar di sini,” ujarnya.
Di sisi lain dia juga mengharapkan lebih banyak para pelaku usaha agensi pariwisata spesialis wisman China yang beroperasi di Sulut. Menurutnya, dengan dominasi satu atau dua agensi pariwisata saat ini pelaku usaha perhotelan baru sulit menembus pasar.
“Karena yang bawa turis itu cuma satu atau dua perusahaan, kalau andai kata buka hotel baru tapi mereka gak menyarankan ke tamunya itu akan susah. Jadi, bagus kalau free market jadi si hotel yang baru juga bisa kerja sama dengan travel agent lain, buka flight baru,” katanya.
(Redaksi)